▴Jasa Pembuatan Website murah▴ - Spiderwoman dari Grobogan Raih Medali Emas Asian Games 2018
- Solidaritas Tanpa Batas untuk Rohingya
- Usai Juara di Jepang, Ini Target Kevin/Marcus Selanjutnya
- Dijual Mahal, Samsung Galaxy Note 8 Lebih Laku dari Galaxy S8
- Paket Wisata ke Seoul Rp 5,2 Juta Siap Memanjakan Liburan Anda
- Dukungan Orangtua Bagi Karier Jessica Mila
- 3 Cewek K-Pop Paling Hot Jalan Bersama
- Ahli Kejiwaan Sebut Marshanda Keterlaluan
- 5 Buah Penangkal Racun dalam Tubuh
- ROBOT Kecil Cikal Bakal Transformer
Bahaya Mendiagnosis Penyakit Lewat Internet
Berita Terkait
- Makanan Penyumbang KegemukaN0
- Apakah dia mengalami Depresi? Cek Bicaranya0
- Cokelat Hitam Turunkan Tekanan Darah0
- Orang Beriman Kondisi Fisik n Mentalnya Lebih Sehat0
- 4 Alasan Kenapa Memaafkan Penting Bagi Kesehatan0
Berita Populer
- Microsoft Update Windows 8.2 Agustus?
- Roy Suryo Menpora, SBY Dipertanyakan
- Israel, Tumor yang Harus Dihancurkan dari Muka Bumi
- Bos Amazon Temukan Mesin Apollo 11
- Tuntut THR, Ratusan Pekerja Transjakarta Mogok
- Jokowi janji mati-matian bela Palestina
- Memalukan! Bu Guru di AS Bercinta dengan 4 Muridnya
- Moskow Larang Parade Gay Selama 100 Tahun
- Hukuman Ganda Korea Diperingan, Greysia/Meiliana Tunggu Nasib
- "Banjir Jakarta" Paling Dicari di Google

Apakah Anda mengunjungi "dokter Google" lebih sering dari dokter di klinik? Anda tidak sendiri. Dalam sebuah survei tahun lalu di Amerika diketahui bahwa 35 persen responden mencocokkan gejala penyakitnya di internet dan mendiagnosis dirinya sendiri.
Masih menurut survei yang dilakukan The Pew Research Center's Internet & American Life Project itu, sekitar 41 responden mengatakan diagnosis sendiri itu ternyata dikonfirmasi kebenarannya oleh dokter.
Tetapi, sekitar satu dari tiga responden mengaku tidak pernah pergi ke dokter untuk mencari opini kedua. Malahan, 18 persen responden mengatakan bahwa upaya mendiagnosis sendiri itu ternyata salah ketika ditanyakan ke dokter.
Meski survei yang melibatkan 3.000 responden itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui siapa yang mencari informasi kesehatan secara online, tetapi para profesional medis merasa khawatir dengan tren itu.
"Rata-rata tiap orang mengunjungi empat situs lalu memutuskan ia menderita kanker dan akan segera meninggal. Padahal, di internet banyak informasi yang keliru," kata Rahul K Khare, dokter unit gawat darurat dari Northwestern Memorial Hospital.
Menurut Khare, ia sering menemukan pasien yang hidupnya menjadi penuh kecemasan karena mereka merasa menderita penyakit berat setelah mencocokkan gejala yang dirasakannya dengan informasi di internet. (sumber: kompas.com)









